Senin, 08 Juli 2013

Menjadi Guru Yang Inspiratif


  Guru tidak harus terbelenggu oleh kurikulum formal
Blog Sita Rosita - Minggu, 07 Juli 2013 - 19:23 WIB  -  Rasulullah  mengajarkan  kepada  kita  tentang hubungan antara mengajar dan belajar. Beliau juga memberikan contoh kepada kita bahwa sekat antara guru dan murid sangatlah tipis.  Sebab, sebagaimana kita pahami dari taujih rabbani surat Âli ‘Imrân ayat 79 di atas, dalam diri seorang Muslim menyatu posisi seseorang guru dan murid sekali gus. Ia selalu berproses untuk mengajar dan belajar.

Marilah kita meneropong kehidupan Rasulullah. Muhammad Shallallahu ‘alayhi wasallam selalu memanggil orang-orang yang mengikutinya dengan sapaan: sahabatku! Tidak pernah beliau dengan: muridku, pengikutku, dan yang sejenisnya. Selalu beliau memanggil, “Sahabatku.” Luar biasa! Efek psikologis yang muncul adalah rasa kedekatan. Tidak ada jarak antara peran sebagai guru dan peran sebagai murid. Pada satu sisi, seorang Muslim adalah murid yang memiliki semangat belajar membaca. Akan tetapi, ia juga sebagai guru yang memberikan ilmunya secara ikhlas pada orang lain.

Kesadaran ini semestinya dimiliki oleh Muslim Pembelajar. Setiap Muslim pada hakikatnya adalah seorang guru. Hasan al-Banna, ketika membahas tentang proyek membangun peradaban menyebutkan cita-cita tertinggi yang harus diraih adalah menjadi ustadziyatul ‘alam . (guru bagi alam semesta). Ya, menjadi guru, saat ketika kita beramal tidak lagi berpikiran menerima tetapi memberi.

Menjadi guru yang saya maksud tidak harus bersertifikasi. Tidak pula harus menunggu surat keputusan (SK). Tidak harus ada sekelompok orang yang menyebut dirinya murid. Tidak menunggu berdirinya bangunan yang disebut sekolah karena seluruh tempat yang kita datangi pada hakikatnya adalah sekolah. Semangat untuk menjadi guru tidak pula dibelenggu oleh kurikulum formal. Sebab, yang saya maksud dengan guru – dalam pembahasan kita kali ini – bukanlah guru formalistik, yang menyadari pekerjaannya sebatas formalitas.

Guru yang diidamkan Muslim Pembelajar adalah guru inspiratif. Guru yang memberikan ilmunya pada siapa pun atas dorongan iman. Guru yang menggerakkan dan menginspirasi. Ia memantik kreatifitas (creative thinking). Mengajak untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang beragam.

Perbandingan Karakter Guru

Guru Formalistik

Guru Inspiratif
pasif
Mitra belajar
aktif
Satu arah
komunikasi
dialogis
Masalah yang dihadapi
fokus
Potensi mitra belajar
Jawaban instan (Giving answer)
Hasil
Struktur berpikir ilmiah (sharp mind)
Menerapkan satu cara, dari guru
Proses
Mengembangkan satu cara/alternatif
Menganggap orang lain sebagai murid
Pandangan terhadap orang lain
Mengangggap orang lain sebagai sahabat

Kutipan Buku:
Dwi Budiyanto, “Prophetic Learning”, hal. 221 – 223, Pro-U Media, Yogyakarta.

Posted:
Slamet Priyadi Pangarakan, Bogor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar